Pages

Diberdayakan oleh Blogger.
 

Senin, 16 Oktober 2017

Penulisan

0 komentar
Apasih Makna dari Kepakaran dari seorang Teknik Industri ?
Menurut saya Kepakaran dari seorang teknik industri yaitu memiliki suatu kemampuan dalam hal merancang suatu hal yang berkaitan dengan produktivitas dalam manufaktur dan juga  keahlian dari seorang teknik industri yaitu mampu menganalisa atau memperhatikan segala aspek yang dibutuhkan dalam proses produksi serta yang berkaitan dengan aktifitas kerja. Contohnya: Pada proses pembuatan suatu produk diperlukan namanya suatu rancangan untuk menghasilkan suatu desain atau prototype dari produk yang akan dibuat, setelah melakukan perancangan lalu seorang pakar teknik industri melihat dari segi aspek apa saja yang diperlukan dalam proses produksi, misalnya memerlukan aspek manusia untuk tenaga pembuat atau operator proses produksi, aspek material untuk mengetahui material apa yang akan digunakan, aspek ekonomi untuk mengetahui biaya yang akan diperlukan selama proses produksi berlangsung.

Apa saja contoh dari karakter tidak beretika dalam kehidupan sehari-hari?
Karakter tidak beretika banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya:
1.         Tidak Sopan Santun
            Karakter ini memiliki sifat yang tidak kenal apa artinya dari sopan santun. Contohnya: Tidak bertegur sapa kepada orang yang lebih tua, tidak membungkukan badan dan tidak mengucapi permisi saat sedang melewati didepan orang yang lebih tua, tidak menghormati perkataan orang tua.
2.         Bertutur kata kotor atau kasar
            Karakter ini selalu bertutur kata yang kasar/kotor saat sedang melakukan komunikasi, berarti karakter ini tidak dapat menghargai orang lain. Contohnya: Saat melakukan komunikasi mengeluarkan kata-kata yang ada di kebun binatang.
3.         Sombong atau Angkuh
            Karakter ini selalu meninggikan dirinya terhadap orang banyak. Contohnya: Disaat dia berhasil mencapai sesuatu, dia selalu memamerkan/memperlihatkan apa yang dia dapatkan dengan tinggi hati.
4.         Pemalas
            Karakter ini tidak ingin melakukan pekerjaan apapun yang sebenarnya bisa dia kerjakan, tidak melakukan aktivitas apapun untuk kepentingan orang banyak atau untuk diri sendiri. Contohnya: Saat diperintah untuk melakukan sesuatu ia mengabaikan perintah tersebut dan memilih untuk rebahan, malas untuk pergi ke sekolah.
5.         Melanggar Aturan
            Karakter ini selalu melanggar aturan apapun yang sudah ditetapkan. Contohnya dalam lingkungan sekolah, pihak sekolah sudah membuat aturan untuk dating ke sekolah dengan 15 menit sebelum bel masuk dibunyikan, tetapi karakter ini selalu dating lebih dari waktu bel masuk dibunyikan, contoh lainnya lagi seperti adanya perintah jangan besaksi dusta tetapi masih bnayak oknum yang melakukannya.
6.         Pemalsuan Barang.

            Karena kehidupan ekonomi sudah makin meningkat banyak oknum yang melakukan tindakan ini untuk mendapatkan keuntungan yang lebih dengan modal yang sedikit. Contohnya: Adanya pemalsuan vaksin.

3 Aktifitas tidak Beretika profesional dalam bekerja:
1.   Lalai
      Lalai dalam bekerja menyebabkan kesalahan yang fatal dan menimbulkan kerugian.
2.   Tidak Teliti
       Dalam melakukan pekerjaan memerlukan ketelitian untuk menghasilkan hasil 
       yang sempurna. Karena Teliti merupakan salah satu tingkat profesional dalam bekerja
3.    Tidak Konsisten
       Konsisten dalam bekerja sangat diperlukan. Karena jika tidak konsisten maka 
       menimbulkan ketidakpercayaan dalam melakukan pekerjaan.

Pengertian Etika, Profesi, dan Profesionalisme

0 komentar
Pengertian Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethikos”, yang artinya “timbul dari kebiasaan”. Etika ialah suatu sesuatu yang di mana dan bagaimana suatu cabang utama filsafat yang mempelajari suatu nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai suatu standar dan penilaian moral. Jadi etika ialah suatu kebiasaan tata cara dalam berprilaku didalam lingkungan masyarakat.
Pengertian      Etika   Secara   Umum
Dalam pergaulan hidup bermasyarakat, bernegara hingga pergaulan hidup tingkat internasional di perlukan suatu system yang mengatur bagaimana seharusnya manusia bergaul. Sistem pengaturan pergaulan tersebut menjadi saling menghormati dan dikenal dengan sebutan sopan santun, tata krama, protokoler dan lain-lain. Maksud pedoman pergaulan tidak lain untuk menjaga kepentingan masing-masing yang terlibat agar mereka senang, tenang, tentram, terlindung tanpa merugikan kepentingannya serta terjamin agar perbuatannya yang tengah dijalankan sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku dan tidak bertentangan dengan hak-hak asasi umumnya. Hal itulah yang mendasari tumbuh kembangnya etika di masyarakat kita. Menurut para ahli maka etika tidak lain adalah aturan prilaku, adat kebiasaan manusia dalam pergaulan antara sesamanya dan menegaskan mana yang benar dan mana yang buruk. Perkataan etika atau lazim juga disebut etik, berasal dari kata Yunani ETHOS yang berarti norma-norma, nilai-nilai, kaidah-kaidah dan ukuran-ukuran bagi tingkah laku manusia yang baik, seperti yang dirumuskan oleh beberapa ahli berikut ini : – Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik. – Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal. – Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya. 
Berikut ini pengertian etika menurut para ahli:
1.         DR. James J. Spillane SJ
Etika adalah mempertimbangkan atau memperhatikan perilaku manusia dalam mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan moral. Etika lebih mengarah pada penggunaan akal budi manusia dengan objektivitas untuk menentukan benar atau salahnya dan perilaku seorang pada orang lain.
2.         Prof. DR. Franz Magnis Suseno
Etika adalah suatu pengetahuan yang memberikan arahan, acuan dan pijakan kepada tindakan manusia.
3.         Soergarda Poerbakawatja
Etika adalah sebuah filsafat berkaitan dengan nilai-nilai, tentang baik dan buruknya tindakan serta kesusilaan.
4.         Drs. H. Burhanudin Salam
Mengungkapkan bahwa etika adalah suatu cabang pengetahuan filsafat yang berbicara tentang nilai -nilai dan etika yang bisa menentukan tingkah laku manusia dalam kehidupannya.
5.         Drs. O. P. Simorangkir
Menjelaskan bahwa etika adalah pandangan manusia terhadap baik dan buruknya tingkah laku manusia.
6.         H. A. Mustafa
Mengungkapkan etika sebagai pengetahuan yang menyelidiki terhadap tingkah laku mana yang baik dan yang buruk serta dengan memperhatikan perbuatan manusia sejauh apa yang sudah diketahui oleh akal pikiran.
7.         W. J. S. Poerwadarminto
Menjelaskan etika sebagai ilmu dan pengetahuan tentang beberapa azas atau beberapa dasar moral dan akhlak.
8.         Drs. Sidi Gajabla
Menjelaskan etika sebagai teori tentang tingkah laku atau perbuatan manusia yang dilihat dari sisi baik & buruknya sejauh mana bisa ditetapkan oleh akal manusia.
9.         K. Bertens
Etika adalah nilai serta etika moral sebagai acuan untuk manusia dengan cara individu maupun golongan dalam mengatur segala tingkah lakunya.
10.       Ahmad Amin
Mengemukakan bahwa etika adalah satu pengetahuan yang menjelaskan tentang arti baik dan buruk serta apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, juga menyatakan satu tujuan yang perlu diraih manusia dalam perbuatannya serta menunjukkan arah untuk melakukan apa yang seharusnya didilakukan oleh manusia.
11.       Hamzah Yakub
Etika adalah pengetahuan yang menyelidiki suatu perbuatan mana yang baik dan buruk serta memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat di ketahui oleh akal pikiran.
12.       Aristoteles
Mengemukakan etika kedalam dua pengertian yaitu : Terminius Technicus & Manner and Custom. Terminius Technicus adalah norma dipelajari sebagai ilmu dan pengetahuan yang mempelajari suatu problema tindakan atau perbuatan manusia. Sedangkan yang kedua yaitu, manner and custom adalah suatu pembahasan etika yang terkait dengan tata cara & etika kebiasaan yang melekat dalam kodrat manusia (in herent in human nature) yang begitu terikat dengan arti “baik & buruk” suatu tingkah laku, perilaku atau perbuatan manusia.
13.       Maryani dan Ludigdo
Mengemukakan etika sebagai seperangkat etika, ketentuan atau dasar yang mengatur semua tingkah laku manusia, baik yang perlu dikerjakan serta yang perlu ditinggalkan yang diyakini oleh sekumpulan orang-orang atau segolongan orang-orang.
14.       Martin
Mengemukakan kalau etika adalah satu disiplin pengetahuan yang bertindak sebagai acuan atau dasar untuk mengontrol perilaku atau tingkah laku manusia.
15.       Menurut KBBI
Etika adalah pengetahuan mengenai baik serta buruknya tingkah laku, hak serta keharusan moral ; sekumpulan asa atau nila-nilai yang terkait dengan akhlak ; nilai tentang benar atau salahnya perbuatan atau tingkah laku yang dianut masyarakat.

Jenis-Jenis Etika dalam Profesi
1.         Etika filosofis
Etika filosofis adalah etika yang dipandang dari sudut filsafat. Kata filosofis sendiri berasal dari kata “philosophis” yang asalnya dari bahasa Yunani yakni: “philos” yang berarti cinta, dan “sophia” yang berarti kebenaran atau kebijaksanaan. Etika filosofis adalah etika yang menguraikan pokok-pokok etika atau moral menurut pandangan filsafat. Dalam filsafat yang diuraikan terbatas pada baik-buruk, masalah hak-kewajiban, maslah nilai-nilai moral secara mendasar. Disini ditinjau hubungan antara moral dan kemanusiaan secraa mendalam dengan menggunakan rasio sebagai dasar untuk menganalisa.
2.         Etika teologis
Etika teologis adalah etika yang mengajarkan hal-hal yang baik dan buruk berdasarkan ajaran-ajaran agama. Etika ini memandang semua perbuatan moral sebagai:
a.         Perbuatan-perbuatan yang mewujudkan kehendak Tuhan ataub sesuai dengan kehendak Tuhan.
b.         Perbuatan-perbuatan sbegai perwujudan cinta kasih kepada Tuhan
c.         Perbuatan-perbuatan sebagai penyerahan diri kepada Tuhan.
3.         Etika sosiologis
Etika sosiologis berbeda dengan dua etika sebelumnya. Etika ini menitik beratkan pada keselamatan ataupun kesejahteraan hidup bermasyarakat. Etika sosiologis memandang etika sebagai alat mencapai keamanan, keselamatan, dan kesejahteraan hidup bermasyarakat. Jadi etika sosiologis lebih menyibukkan diri dengan pembicaraan tentang bagaimana seharusnya seseorang menjalankan hidupnya dalam hubungannya dengan masyarakat.

Pengertian Profesi
Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris"Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: "Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen".
Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer,teknik dan desainer. Berikut ini beberapa istilah profesi yang dikemukakan oleh para ahli:
1.         SCHEIN, E.H  (1962)
            Profesi adalah suatu kumpulan atau set pekerjaan yang membangun suatu set norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya yang khusus di masyarakat.
2.         HUGHES, E.C (1963)
            Perofesi menyatakan bahwa ia mengetahui lebih baik dari kliennya tentang apa yang diderita atau terjadi pada kliennya.
3.         DANIEL BELL (1973)
            Profesi adalah aktivitas intelektual yang dipelajari termasuk pelatihan yang diselenggarakan secara formal ataupun tidak formal dan memperoleh sertifikat yang dikeluarkan oleh sekelompok / badan yang bertanggung jawab pada keilmuan tersebut dalam melayani masyarakat, menggunakan etika layanan profesi dengan mengimplikasikan kompetensi mencetuskan ide, kewenangan ketrampilan teknis dan moral serta bahwa perawat mengasumsikan adanya tingkatan dalam masyarakat.
4.         PAUL F. COMENISCH (1983)
            Profesi adalah "komunitas moral" yang memiliki cita-cita dan nilai bersama.
5.         KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA (KBBI)
            Profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu.
6.         K. BERTENS
            Profesi adalah suatu moral community (masyarakat moral) yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama.
7.         SITI NAFSIAH
            Profesi adalah suatu pekerjaan yang dikerjakan sebagai sarana untuk mencari nafkah hidup sekaligus sebagai sarana untuk mengabdi kepada kepentingan orang lain (orang banyak) yang harus diiringi pula dengan keahlian, ketrampilan, profesionalisme, dan tanggung jawab.
8.         DONI KOESOEMA  A.
            Profesi merupakan pekerjaan, dapat juga berwujud sebagai jabatan di dalam suatu hierarki birokrasi, yang menuntut keahlian tertentu serta memiliki etika khusus untuk jabatan tersebut serta pelayananbaku terhadap masyarakat.

Ciri-ciri Profesi:
Secara umum ada beberapa sifat atau ciri yang selalu melekat pada profesi, yaitu:
1.         Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun.
2.         Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi.
3.         Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi  harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat.
4.         Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, dimana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus.
5.         Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi.

Pengertian dari Profesionalisme
Berikut ini adalah pengertian dari profesionalisme:
1.         Kiki Syahnarki
            Profesionalisme merupakan roh yang menggerakan, mendorong, mendinamisasi, membentengi, TNO dari tendensi penyimpangan serta penyalahgunaan baik secara internal maupun eksternal.
2.         Doni Koesoema A.
            Profesionalisme merupakan salah satu cara bagi guru untuk merealisasikan keberadaan dirinya sebagai pendidik karakter.
3.         Onny S. Prijono
            Profesionalisme merupakan kemampuan untuk memasuki ajang kompotisi sebagai antisipasi menghadapi globalisasi.

Sumber:

Selasa, 25 April 2017

Analisis Dampak Lingkungan Usaha Laundry

2 komentar
Analisis Dampak Lingkungan Dari Usaha Laundry


Dampak Positif dan Dampak Lingkungan
Industri merupakan kegiatan ekonomi yang dimana mengolah bahan mentah menjadi barang jadi atau barang setengah jadi dengan niat untuk mendapatkan nilai tambah untuk penggunanya. Bidang usaha industry merupakan lapangan kegiatan yang berhubungan dengan cabang industry yang mempunyai ciri khusus yang sama yang sifatnya akhir dalam proses produksi. Usaha laundry mulai terkenal karena kebutuhan untuk mencuci tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga dan membuat para pengguna jasa lebih memilih menitip pakaian kotornya untuk dicuci oleh penyedia pelayanan jasa tersebut.
            Usaha laundry semakin meningkat. Tetapi, belum adanya pengawasan yang terkait tentang pengolahan limbah laundry dan penggunaan deterjen yang kandungan phospornya rendah. Bagi laundry yang tak berizin disarankan untuk mengurus surat izin, untuk yang sudah memiliki surat izin disarankan untuk menggunakan deterjen yang ramah lingkungan ataupun yang memiliki kandungan phosphor rendah. Usaha laundry merupakan bisnis yang menjajikan sehingga banyak masyarakat memanfaatkan jasa usaha lanundry tersebut.  Dampak yang dihasilkan usaha laundry antara lain dampak positif dan dampak negatif, yaitu:
1.    Dampak positif dari usaha laundry
       a.     Dari segi pelaku usaha, dengan semakin berkembangnya kegiatan kewirausahaan saat ini sangat memberikan dampak positif dengan lahirnya berbagai dunia usaha. Usaha di bidang laundry bisa menjadi alternatif pilihan untuk berwirausaha.
       b.    Dari segi konsumen, dari banyaknya usaha laundry konsumen bisa memilih jenis laundry yang sesuai dengan kebutuhan dan harga yang terjangkau.
2.    Dampak negatif dari usaha laundry
       Dampak negatif yang terjadi yaitu bagi lingkungan di sekitar lokasi usaha. Penggunaan deterjen yang mengandung phpspor tinggi dan kurangnya kepedulian dari pelaku usaha untuk melengkapi usahanya dengan Instalasi Pengolahan Air (IPAL), dapat menghambat pemurnian air sehingga membuat air sumur atau air tanah di sekitar lokasi tercemar oleh limbah kimia (chemical).

Upaya Penekanan dari Dampak Negatif
              Upaya yang dilakukan utuk penekanan tersebut ialah melakukan pengawasan pengolahan limbah menurut Kepala Bidang Pengawasan dan Pengaduan Dinas Perizinan, dan merupakan wewenang dari Badan Linkungan Hidup (BLH). Setiap usaha lundry wajib memiliki surat izin.
              Menurut Kepala BLH limbah pembuangan yang bercampur deterjen dikhawatirkan mencemari tanah hingga sumur tanah sebab kandungan kimianya, misalkan kandungan fosfotnya tinggi sehingga tanah tidak bisa menjadi normal sendirinya. Tanah mempunyai sifat memurnikan (purifying) diri sendiri. BLH akan menguji air limbah dari usaha cuscian tersebut, ada kandungan kimia atau tidak.
              Berdasarkan hasil penilitian, Badan Lingkungan Hidup melakukan pengawasan terhadap kegiatan usaha laundry antara kain:
1.    Perizinan usaha laundry
       Badan Lingkungan Hidup melakukan pengawasan usaha laundry yang terkait dengan izin usaha laundry. Tugas Badan Lingkungan Hidup yaitu mendata usaha laundry yang tidak memiliki surat izin agar mempunyai surat izin. Usaha laundry yang mempunyai mesin maksimal 3 izin usahanya cukup sampai kecamatan sedangkan usaha laundry yang mempunyai mesin lebih dari 3 izin usahanya sampai tingkat kota.
2.    Penggunaan daterjen usaha laundry
       Badan Lingkungan Hidup melakukan pengawasan usaha laundry terkait penggunaan deterjen yang fosfotnya rendah. Tujuan dari hal tersebut ialah supaya limbah yang dihasilkan kandungan kimianya terlalu tinggi dan tidak merusak serta mencemari air tanah pada saat pembuangan limbah dari usaha laundry.
3.    Badan Lingkungan Hidup melakukan pengawasan usaha laundry terkait proses pembuangan limbahnya. Pengawasan yang dilakukan Badan Lingkungan Hidup menyarankan setiap usaha laundry sebelum membuang limbahnya supaya melakukan proses penetralan terlebih dahulu. Badan Lingkungan Hidup menyarankan setiap usaha laundry yang ada dalam melakukan pembuangan pembuangan limbah hasil laundry harus melalui tiga tahap sebelum di buang yaitu:
       1.    Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan usaha laundry harus ditampung terlebih dahulu didalam suatu wadah atau bak.
       2.    Limbah usaha laundry yang sudah ditampung dalam wadah lalu dicampurkan tawas yang berfungsi untuk mengurangi kadar kimia yang ada pada limbah usaha laundy.
       3.    Limbah usaha laundry yang sudah dicampurkan tawas kemudian dipindahkan dan disaring kemudian didiamkan beberapa saat lalu dibuang ke saluran pembuangan atau ke tanah.




Sumber:


Jumat, 04 November 2016

Contoh Proposal

0 komentar

Metode Pengumpulan Data

0 komentar
Metode Pengumpulan Data

          Data secara Etimologis merupakan bentuk jamak dari DATUM yang berasal dari Bahasa Latin dan berarti "Sesuatu Yang Diberikan". Dalam pengertian sehari-hari DATA dapat berarti Fakta dari suatu objek yang diamati, yang dapat berupa angka-angka maupun kata-kata. Sedangkan jika dipandang dari sisi Statistika, maka DATA merupakan Fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan penarikan kesimpulan. (Siswandari, 2009).
            DATA merupakan Kumpulan fakta yang diperoleh dari suatu pengukuran. Suatu pengambilan keputusan yang baik merupakan hasil dari penarikan kesimpulan yang didasarkan pada Data/Fakta yang akurat. Untuk mendapatkan Data yang akurat diperlukan suatu Alat Ukur atau yang disebut Instrumen yang baik. Alat Ukur atau Instrumen yang baik adalah Alat Ukur/Instrumen yang VALID dan RELIABEL. (Amin, dkk., 2009).
            Selanjutnya, agar DATA dapat dianalisis dan ditafsirkan dengan Baik, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1.         Obyektif
Data yang diperoleh dari lapangan/hasil pengukuran, harus ditampilkan dan dilaporkan apa adanya.
2.         Relevan
Dalam mengumpulkan dan menampilkan Data harus sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi atau diteliti.
3.         Up To Date (Sesuai Perkembangan)
Data tidak boleh usang atau ketinggalan jaman, karena itu harus selalu menyesuaikan perkembangan.
4.         Representatif
Data harus diperoleh dari sumber yang tepat dan dapat menggambarkan kondisi senyatanya atau mewakili suatu kelompok tertentu atau populasi.
     Menurut jenisnya, data secara umum dapat dibagi menjadi 2 macam yaitu:
1.        Data KUANTITATIF
Yaitu Data yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka atau jumlah dan dapat diukur besar kecilnya serta bersifat obyektif sehingga dapat ditafsirkan sama oleh orang lain.
Contoh : harga Buku Rp. 45.000, ; berat badan ; tinggi badan ; suhu tubuh, dsb. 
2.        Data KUALITATIF
Yaitu Data yang berhubungan dengan kategorisasi atau karakteristik dalam bentuk Sifat (Bukan Angka) yang tidak dapat diukur besar kecilnya.

Contoh : Jenis kelamin, Bahasa, Pekerjaan, Pengetahuan, Sikap, dsb.

I.                   Metode Survei Sebagai Pengumpulan Data Primer
Data sangat dibutuhkan untuk melakukan suatu analisis. Sumber data didapat dari instansi lain (dengan wawancara/survey) maupun dari penyebaran kuesioner kepada sekelompok masyarakat untuk mendapatkan data eksternal dan bersifat data primer. Cara ini dilakukan dengan mengikuti kaidah statistika.
Wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seorang responden dengan cara bercakap-cakap secara tatap muka (Prabowo, 1996).
Proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit (Patton dalam Poerwandi, 1998)
Pada penilitian dalam wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas serta menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relavan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviewer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam Poerwandi, 1998).
Kekuatan metode wawancara terdiri dari 3 hal (Kerlinger dalam Hasan, 2000):
1.        Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan.
2.        Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.
3.        Menjadi satu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat teknik lain sudah tidak dapat dilakukan.
Kelemahan dari kekuatan metode wawancara (Yin, 2003):
1.        Rentan terhadap bias yang ditimbulkan oleh konstruksi pertanyaan yang penyusunya kurang baik.
2.        Rentan terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.
3.        Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penilitian menjadi kurang akurat.
4.        Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviewer.

II.                Pengamatan Pengumpulan Data Primer
Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung objek (elemen) yang diteliti tanpa mengajukan pertanyaan.
Keuntungan Pengamatan (observasi):
1.        Dapat dicatat hal-hal perilaku,pertumbuhan, respon, terhadap suatu perlakuan tertentu.
2.        Dapat memperoleh data dari objek yang diteliti tanpa melakukan komunikasi verbal.
Kelemahan Pengamatan (observasi):
1.        Memerlukan waktu menunggu yang lama.
2.        Pengamatan terhadap suatu fenomena yang lama tidak dapat dilakukan secara langsung.
3.        Adanya kegiatan-kegiatan yang tidak mungkin diperoleh datanya melalui pengamatan karena dianggap tabu, sangat rahasia dan lain-lain.
Observasi adalah Pengamatan dan pencatatan  secara sistematis terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala dalam objek penilitian (Nawawi dan Martini, 1991).
Dalam Penilitian observasi dibutuhkan untuk dapat memahami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasinya yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peniliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
Tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut (Patton dalam Poerwandi, 1998).
Salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Hasil observasi menjadi data penting (Patton dalam Poerwandi, 1998):
1.    Peniliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang akan diteliti atau akan terjadi.
2.    Obsevasi memungkinkan peniliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada pembuktian dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif.
3.    Observasi memungkinkan peniliti melihat hal-hal oleh subjek penilitian sendiri kurang disadari.
4.    Obserasi memungkinkan peniliti memperoleh data tentang hal-hal berbagai sebab yang tidak diungkapkan oleh subjek penilitian secara terbuka dalam wawancara.
5.    Observasi memungkinkan peniliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penilitian yang dilakukan.
Jenis-jenis Observasi:
1.        Berdasrkan Pengumpulan Data:
a.     Observasi Partisipan ( Partisipant Observation) peniliti terlibat langsung dalam aktivitas yang diamati.
b.   Observasi Non Partisipant (Non Participant Observation) peniliti tidak terlibat dalam aktivitas orang-orang yang sedang diamati dan hanya sebagai pengamat independent.
2.        Berdasarkan Instrumen yang Digunakan:
a.    Observasi Terstruktur adalah observasi yang telah dirancang secara sistematis tentang apa yang diamati dan berdasarkan tempatnya.
b.   Observasi Tidak Terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan diobservasi.

III.             Contoh Penerapan Metode Survei Sebagai Metode Pengumpulan Data Primer
Survey data pengumpulan data primer dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah survey opini lembaga yang terkait dengan Badan Koordinasi Pemanfaatan Ruang Daerah (BKPRD). Tujuan dari metode survey ini pada dasarnya meliputi:
1.        Menjaring, memonitor, mengetahui, dan mengugkapkan gambaran tentang sikap dan aspirasi lembaga atau publik terhadap perkembangan permasalahan dan isu-isu organisasi yang berkaitan dengan masalah penataan ruang di daerah.
2.        Menyalurkan ataupun memilah presepsi, sikap dan harapan responden tentang suatu isu baik mengenai kelembagaan maupun masalah penataan ruang.
3.        Menyebarkan informasi tentang sikapdan aspirasi lembaga atau public tentang isu-isu permasalahan tata ruang dan kelembagaan ke berbagai kalangan masyarakat yang dipandang memiliki peran dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian tata ruang.


Sumber: